PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN 1

 


Review Pengalaman Belajar

Menurut saya, pengalaman belajar paling bermanfaat dan menarik selama mengikuti mata kuliah PPL 1 adalah saat saya terjun langsung melaksanakan praktik di sekolah mitra. Pengalaman ini sangat berkesan karena memberi kesempatan bagi saya untuk menerapkan berbagai teori yang telah saya pelajari selama perkuliahan, seperti asesmen dengan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL), Culturally Responsive Teaching (CRT), dan Developmentally Appropriate Practice (DAP), ke dalam konteks nyata di lapangan. Melalui kegiatan PPL, saya dapat melakukan asesmen diagnostik, merancang pembelajaran berdiferensiasi yang responsif terhadap budaya dan kemampuan siswa, serta mengadaptasi strategi pengajaran berdasarkan hasil observasi karakteristik peserta didik, manajemen kelas, dan lingkungan belajar. Saya juga menemukan adanya keterkaitan antara mata kuliah lain seperti Perencanaan Pembelajaran yang Berpihak pada Peserta Didik (PPDP) dengan PPL, di mana beberapa tugas dalam PPDP dapat saya kerjakan melalui kegiatan observasi dan praktik mengajar selama PPL, seperti menilai sejauh mana pembelajaran yang berlangsung sudah berpihak pada peserta didik.

Namun demikian, saya juga mengalami pengalaman belajar yang kurang menyenangkan saat melaksanakan PPL melalui LMS. Ketidaksesuaian antara jadwal yang tertera di LMS dan kondisi aktual di sekolah mitra cukup membingungkan, seperti ketika di LMS dijadwalkan pelaksanaan pembelajaran terbimbing, tetapi di sekolah mitra sedang berlangsung ujian semester. Ketidaksesuaian ini menyebabkan saya dan rekan-rekan PPL mengalami kesulitan dalam menyesuaikan kegiatan di lapangan dengan tuntutan dari LMS. Akibatnya, beberapa kegiatan PPL terpaksa dilakukan tidak sesuai dengan alur waktu yang ditentukan, misalnya minggu yang seharusnya digunakan untuk observasi justru kami gunakan untuk asistensi mengajar. Meskipun demikian, saya tidak menemukan pengalaman belajar yang menarik namun kurang bermanfaat dalam pelaksanaan PPL 1. Semua pengalaman, baik di sekolah maupun secara daring melalui LMS, memiliki nilai pembelajaran tersendiri yang sangat mendukung pengembangan kompetensi saya sebagai calon guru.

Menurut pandangan saya, tidak ada pengalaman belajar yang terasa tidak menarik atau tidak bermanfaat selama mengikuti PPL 1. Setiap proses, mulai dari observasi, asistensi, hingga praktik mengajar, memberi saya wawasan dan pengalaman yang memperkaya pemahaman tentang realitas dunia pendidikan. Bahkan berbagai tantangan yang saya hadapi, seperti penyesuaian jadwal, koordinasi dengan sekolah, hingga menyusun tugas sesuai alur LMS, justru menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mental, keterampilan pedagogis, dan kemampuan adaptasi saya sebagai calon pendidik. Seluruh pengalaman tersebut saling melengkapi dan berkontribusi dalam membangun kompetensi profesional saya untuk menjadi guru yang reflektif, adaptif, dan berpihak pada kebutuhan belajar siswa.

Refleksi Pengalaman Belajar

Selama pelaksanaan mata kuliah PPL 1, saya menjalani serangkaian kegiatan praktik mengajar di sekolah mitra, yang meliputi observasi, asistensi, hingga pelaksanaan pembelajaran mandiri secara langsung di kelas. Pada tahap observasi, saya mempelajari karakteristik peserta didik, gaya mengajar guru pamong, serta kondisi lingkungan belajar. Selanjutnya, melalui asistensi, saya mulai terlibat dalam proses pembelajaran dengan mendampingi guru dan membantu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Puncaknya adalah tahap pembelajaran mandiri yang menjadi momen paling menantang sekaligus menyenangkan, karena saya diberi kepercayaan penuh untuk menyusun RPP, melaksanakan pembelajaran, dan melakukan asesmen terhadap peserta didik. Dalam proses ini, saya juga berinteraksi langsung dengan berbagai pihak di sekolah, seperti guru pamong, rekan guru, peserta didik, dan tenaga kependidikan, yang memperkaya wawasan saya tentang dinamika dunia pendidikan secara nyata.

Namun demikian, pelaksanaan PPL 1 tidak lepas dari tantangan, terutama terkait ketidaksesuaian antara jadwal kegiatan yang ditetapkan di LMS dan realitas kegiatan di sekolah mitra. Sekolah mitra tentu memiliki agenda tersendiri, seperti ujian tengah atau akhir semester, yang tidak bisa disesuaikan dengan alur waktu dari LMS. Akibatnya, beberapa kegiatan seperti observasi, asistensi, atau praktik mengajar harus mengalami penyesuaian, dan saya bersama rekan-rekan PPL dituntut untuk tetap menyelesaikan tugas dengan komitmen dan fleksibilitas tinggi. Ketidaksesuaian ini juga mencerminkan pentingnya koordinasi awal antara pihak kampus dan sekolah mitra agar pelaksanaan PPL dapat berjalan lebih sinkron.

Meski begitu, pengalaman ini memberi saya kesempatan berharga untuk mengaplikasikan berbagai teori dan pendekatan pembelajaran yang telah saya pelajari, seperti pembelajaran berdiferensiasi, asesmen diagnostik, pendekatan tanggap budaya, serta strategi pembelajaran yang berpihak pada peserta didik. Keterbatasan kendali terhadap situasi lapangan justru mengajarkan saya pentingnya adaptasi, komunikasi efektif, dan solusi kreatif dalam menghadapi dinamika pendidikan di dunia nyata. Seluruh proses ini membentuk kompetensi profesional saya sebagai calon guru, karena saya tidak hanya belajar dari teori, tetapi juga dari tantangan, kolaborasi, dan pengalaman langsung di lapangan.

Analisis Artefak Pembelajaran

Link salah satu artefak yang menjadi pengalaman belajar selama PPL 1 sebagai berikut:

https://drive.google.com/file/d/1pLNH5xvyaOyM0Df2yDuXG4BdYVRg-91Y/view?usp=sharing  

Saya memilih artefak ini karena secara menyeluruh mencerminkan proses perencanaan pembelajaran yang saya lakukan selama PPL 1 dengan memperhatikan keterpaduan antara tujuan, materi, strategi, media, hingga penilaian secara sistematis dan kontekstual. Artefak ini menunjukkan bahwa saya telah melakukan analisis kritis terhadap rancangan pembelajaran Seni Rupa untuk kelas VI, termasuk merumuskan tujuan pembelajaran yang memenuhi kriteria SMART, menyesuaikan materi ajar dengan karakteristik peserta didik, serta menyusun instrumen penilaian yang lengkap dan relevan. Lebih dari itu, rancangan pembelajaran yang saya tuangkan dalam artefak ini juga memperlihatkan upaya saya untuk menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan bermakna, antara lain melalui penggunaan media pembelajaran seperti video, gambar, dan LKPD interaktif, yang sejalan dengan prinsip pembelajaran aktif dan berpihak pada murid.

Artefak ini tidak hanya merepresentasikan kemampuan saya dalam merancang pembelajaran, tetapi juga menjadi refleksi nyata dari bagaimana teori-teori yang dipelajari selama perkuliahan diimplementasikan dalam praktik lapangan. Bagian yang paling mendukung hasil refleksi saya terdapat pada aspek “Kejelasan Tujuan Pembelajaran” dan “Pemilihan Materi Ajar”, yang menunjukkan kemampuan saya dalam merumuskan tujuan secara spesifik, terukur, dan relevan, serta memilih materi yang sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Selain itu, aspek “Pemilihan Sumber/Media Pembelajaran” dan “Kelengkapan Instrumen Penilaian” semakin memperkuat refleksi saya, karena melalui media yang interaktif dan asesmen yang komprehensif, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan bagi peserta didik. Seluruh isi artefak ini mempertegas bahwa pengalaman PPL 1 telah menjadi proses belajar yang bermakna, memperkuat kompetensi saya sebagai calon guru profesional yang mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran secara efektif dan berpihak pada siswa.

Rumusan hasil refleksi berupa pembelajaran bermakna

Berdasarkan pengalaman saya selama PPL, beberapa perubahan yang akan saya lakukan jika mengajar atau membahas topik ini adalah dengan meningkatkan keterlibatan siswa dalam merancang pembelajaran, memberi mereka kesempatan untuk terlibat aktif dalam pemilihan topik atau kegiatan yang relevan dengan minat mereka. Saya juga akan memastikan fleksibilitas dalam pendekatan pembelajaran, menyesuaikan rencana pembelajaran dengan kondisi di lapangan seperti yang saya alami saat menghadapi ketidaksesuaian jadwal antara LMS dan kegiatan di sekolah mitra. Selain itu, saya akan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi yang responsif terhadap budaya dan kemampuan siswa, serta memanfaatkan media pembelajaran yang lebih bervariasi seperti video, gambar, dan LKPD interaktif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam hal asesmen, saya akan memastikan penilaian berpusat pada siswa, mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta melibatkan siswa dalam proses penilaian diri dan penilaian teman. Saya juga akan mendorong refleksi siswa untuk membantu mereka mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan mereka, menjadikannya pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan. Semua perubahan ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih berpusat pada siswa dan mendalam.

Posting Komentar

0 Komentar